Kepungan Debu dan Jalan Berlubang di Kecamatan Sumber dan Kaliori Masih Jadi PR Pemkab Rembang

Foto: Kondisi jalan Sumber-Krikilan (LP3tv/Sholeh)

REMBANG, Lp3tv.com – Ditengah masifnya upaya percepatan pembangunan infrastruktur yang digencarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang, sejumlah ruas jalan utama rupanya masih menyisakan Pekerjaan Rumah (PR) besar. Kondisi jalan rusak, berlubang, hingga kepungan debu tebal yang menyelimuti pemukiman warga di wilayah Kecamatan Sumber dan Kaliori kini hangat menjadi sorotan publik.

Isu ini mendadak viral di berbagai platform media sosial setelah diangkat oleh portal media lokal Mondes.co.id. Gelombang kritik dari masyarakat pun tak terelakkan, mengingat dampak polusi udara dari material jalan rusak yang beterbangan kian mengganggu aktivitas harian hingga mengancam kesehatan pernapasan warga sekitar.



Pantauan di lokasi menunjukkan material debu kering bertumpuk tebal di sepanjang bahu jalan akibat kikisan aspal yang terkelupas dan tanah urugan. Hantaman angin serta padatnya lalu lintas kendaraan bertonase besar membuat partikel debu beterbangan bebas.

Kondisi tersebut kian parah hingga membuat dedaunan di pepohonan beberapa daerah di Kecamatan Sumber dan Kaliori berubah warna menjadi abu-abu tertutup lapisan debu tebal.

Tak berhenti di situ, debu halus kerap terbawa angin hingga masuk dan mengotori bagian dalam rumah-rumah warga di tepi jalan.



Kondisi memprihatinkan ini dirasakan langsung oleh Riyan, salah seorang pengendara yang kerap melintasi jalur alternatif Sumber-Krikilan. Ia mengaku sangat risau setiap kali melintas, terutama saat membawa buah hatinya.

“Seminggu sekali kami selalu ke Desa Krikilan untuk menjenguk orang tua. Saat membawa anak saya yang kecil, ketika berpapasan dengan kendaraan muatan tebu atau truk muatan tanah, sangat miris. Debunya menempel tebal ke pakaian, apalagi kalau terhirup kalau tidak pakai masker,” ungkap Riyan dengan nada prihatin.



Riyan juga membagikan tips serta pola lalu lintas kendaraan berat berdasarkan pengalamannya di lapangan. Menurutnya, polusi debu terparah biasa terjadi pada jam-jam sibuk angkutan material dan hasil perkebunan.

“Kalau untuk jam-jam ramai kendaraan muatan tebu, biasanya sore sekitar pukul 14.30 WIB ke bawah. Maka jika tidak mau banyak debu yang mengganggu perjalanan, usahakan jangan melintas di jam-jam segitu. Atau kalau ingin sedikit menghindari polusi di area sekitar SD Kedungtulup, bisa memotong rute masuk lewat jalan dalam desa saja,” tambahnya.

Desakan Masyarakat untuk Penanganan Cepat
Kondisi lalu lintas di jalur tersebut kian memprihatinkan kala musim panen tebu maupun aktivitas lalu lalang truk pengangkut tanah tambang mencapai puncaknya.

Kombinasi antara bobot muatan yang berat dan kondisi jalan yang rapuh membuat kerusakan jalan kian menganga dari hari ke hari.

Masyarakat dan para pengguna jalan berharap Pemkab Rembang melalui dinas terkait segera memberikan penanganan konkret di wilayah pinggiran seperti Sumber dan Kaliori. Langkah darurat seperti penyiraman jalan secara berkala hingga perbaikan permanen sangat dinantikan demi menjaga kenyamanan serta kesehatan lingkungan warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *