REMBANG, LP3TV.COM — Kabupaten Rembang tak lagi sekadar menjadi penonton di jalur Pantura. Pemkab Rembang kini serius menggenjot pengembangan bawang merah sebagai komoditas unggulan baru, bersiap membayangi kejayaan Brebes dan Tegal. Tren produksi yang konsisten melonjak dalam lima tahun terakhir menjadi bukti nyata potensi besar kawasan ini.
Data Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Rembang mencatat lonjakan produktivitas yang signifikan. Pada 2021, produktivitas bawang merah hanya berada di angka 65,27 kuintal per hektare. Angka ini melesat tajam hingga menyentuh 95,14 kuintal per hektare pada 2025, dengan total produksi mencapai 11.226 kuintal dari luas panen 118 hektare.
“Selama ini kita masih sangat bergantung pada Brebes dan Tegal. Untuk wilayah Pantura, kami berupaya agar Rembang menjadi salah satu daerah penghasil bawang merah utama,” tegas Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto.
Sentra Produksi & Terobosan Benih Biji
Pengembangan bawang merah tak lagi terfokus di satu titik, melainkan mulai menyebar ke berbagai wilayah.
Kecamatan Pamotan menjadi kontributor produksi terbesar dengan panen mencapai 5.550 kuintal dari lahan seluas 65 hektare. Kecamatan Gunem memegang rekor produktivitas tertinggi di Rembang, yakni mencapai 236,83 kuintal per hektare. Kecamatan Sumber, Kragan, dan Bulu wilayah potensi baru yang tengah berkembang pesat.
Khusus di Kecamatan Sumber, para petani mulai menjajal inovasi budidaya menggunakan benih (biji), bukan sekadar umbi konvensional. Meski masih dalam tahap uji coba, potensi hasilnya tergolong fantastis.
“Jika menggunakan benih biji, potensi hasilnya bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektare,” ungkap Alif Fachrijal Rosyid, Manager Brigade Pangan Sumber Sejahtera. Saat ini, harga jual bawang kering di tingkat petani Sumber berada di kisaran Rp19.000–Rp20.000 per kg, dan stabil di angka Rp25.000–Rp30.000 per kg di tingkat pasar.
Petani Milenial dan Modernisasi Teknologi
Langkah Rembang menuju sentra hortikultura juga didorong oleh keterlibatan petani muda serta digitalisasi pertanian. Penyemprotan hama seperti ulat, thrips, dan tungau kini mulai memanfaatkan teknologi drone agar lebih presisi dan efisien.
Dukungan sarana modern dan pendampingan berkelanjutan diharapkan memicu minat lebih banyak petani milenial untuk memperluas area tanam, sekaligus mengukuhkan posisi Rembang sebagai kekuatan baru ekonomi pertanian Jawa Tengah.
Bukan Cuma Brebes, Rembang Siap Bersaing Jadi Sentra Bawang Merah Baru di Pantura












