Foto: Nampak Depan RSUD Soetrasno Rembang. (Lp3tv/Admin)
REMBANG, Lp3tv.Com – Publik sempat dihebohkan dengan kabar pasien luar kota yang harus “menitipkan” BPKB demi melunasi biaya persalinan di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang. Namun, di balik narasi yang beredar, tersimpan fakta tentang kebijakan rumah sakit yang tetap mengedepankan kemanusiaan di atas birokrasi.
Direktur Utama RSUD dr. R. Soetrasno, dr. Samsul Anwar, mengonfirmasi bahwa pasien asal lintas kota (Ibu dari Jepara dan Ayah dari Mojokerto) tersebut menjalani perawatan pada 20 hingga 26 April 2026.

Sejak awal, pihak rumah sakit sebenarnya telah menawarkan opsi penjaminan seperti BPJS Kesehatan. Namun, pihak keluarga memutuskan untuk menempuh jalur pasien umum.
Menanggapi isu penjaminan aset kendaraan, dr. Samsul memberikan klarifikasi tegas. Menurutnya, BPKB tersebut bukan permintaan pihak rumah sakit, melainkan inisiatif spontan dari keluarga.
“Kami tidak pernah mengarahkan atau memaksa jaminan BPKB. Fokus utama kami adalah keselamatan bayi. Bahkan, bayi tetap diperbolehkan pulang meskipun administrasi sebesar Rp7,2 juta belum tuntas,” ungkap dr. Samsul, Rabu (29/4/2026).

Jika pasien merupakan warga Rembang, kendala biaya ini bisa langsung teratasi melalui program Universal Health Coverage (UHC) atau bantuan Dinas Sosial setempat.
Namun, karena status pasien adalah warga luar daerah, prosedurnya menjadi lebih kompleks.
Biaya Terbagi Dua, Biaya perawatan ibu sebesar Rp5,6 juta dan perawatan bayi (karena kondisi kuning) sebesar Rp1,6 juta.
RSUD menyarankan keluarga mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau BPJS dari daerah asal (Jepara atau Mojokerto).
Begitu dokumen administrasi dari daerah asal rampung, KTP dan BPKB yang dititipkan dapat langsung diambil kembali.
Meski terganjal aturan administratif antar-wilayah, RSUD dr. R. Soetrasno memastikan bahwa pelayanan medis tidak akan terhenti karena masalah biaya.
“Kami tetap membuka ruang komunikasi. Kami menunggu pihak keluarga mengurus persyaratan dari daerah asal mereka agar jaminan bisa segera diambil. Bagi kami, sisi kemanusiaan tetap yang utama,” pungkasnya.












