Foto: Potret Kemiskinan Sepasang Lansia Mbah Maryam dan Mbah Suhadi di Rembang. (Lp3tv/Admin)
REMBANG, Lp3tv.com – Potret kemiskinanq yang memilukan kembali mengetuk pintu kemanusiaan kita. Di sebuah sudut Desa Terjan, tepatnya di RT 03/RW 02, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, sepasang lansia harus menghabiskan masa senjanya dalam kondisi yang jauh dari kata layak.
Mbah Maryam (64) dan suaminya, Mbah Suhadi (84), terpaksa berteman dengan dinginnya angin malam di dalam gubuk reot berukuran 4 × 6. Dinding rumah mereka bukan bata kokoh, melainkan anyaman bambu berlubang bekas kandang sapi.

Saat disambangi di kediamannya pada Jumat (26/6/2026), kondisi rumah pasangan lansia ini benar-benar memprihatinkan. Lantai rumah mereka masih berupa tanah merah. Di sudut kamar yang sempit, terdapat ranjang dengan kasur yang sudah lapuk, kotor, dan tak layak pakai. Tak ada sprei kain yang menghiasi, kasur itu hanya ditutupi oleh karung bekas tempat beras atau gabah.
Ketika hujan turun, penderitaan mereka berlipat ganda karena atap genteng yang sudah lapuk bocor di sana-sini. Tragisnya, tanah tempat gubuk itu berdiri pun bukan milik mereka, melainkan milik sang anak yang hidupnya juga serba pas-pasan.
“Rumah yang saya tempati ini sudah tidak layak. Dinding bambunya bolong-bolong, ini dari bambu bekas kandang sapi. Lantai masih tanah, ranjang dan kasur pun sudah tidak layak semua,” tutur Mbah Maryam dengan nada lirih dan mata berkaca-kaca.
Selain kondisi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang mendesak untuk direhabilitasi, kebutuhan akan sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) menjadi persoalan paling krusial bagi pasutri lansia ini. Selama ini, mereka tidak memiliki fasilitas toilet sama sekali.
Faktor usia membuat keterbatasan fisik kian menyiksa, terutama bagi Mbah Suhadi yang pandangannya mulai kabur.
“Saya sangat sedih dan bingung. Saya sudah tua, mata sudah tidak begitu jelas melihat. Kalau malam hari sakit perut mau BAB, saya bingung. Mau ke sungai gelap sekali. Saya berharap ada kepedulian pemerintah untuk bantu buatkan jamban atau MCK, biar kalau sakit perut tidak usah ke sungai lagi,” ungkap Mbah Suhadi penuh harap.
Bertahan Hidup dari Uluran Tangan Tetangga
Di usianya yang senja, Mbah Suhadi sudah tidak lagi memiliki kekuatan fisik untuk bekerja sebagai kuli harian. Pasangan ini tidak memiliki sawah, ladang, maupun hewan ternak.
Untuk menyambung hidup dari hari ke hari, mereka hanya mengandalkan bantuan sosial (bansos) beras dan uang tunai dari pemerintah, serta belas kasihan dari tetangga sekitar.
“Untuk makan sehari-hari, saya dapat bantuan beras dari pemerintah. Kadang-kadang juga ada tetangga yang kasihan lalu memberi beras saat mereka panen. Semoga segera ada perhatian,” tambah Mbah Suhadi dengan sabar.
Kondisi Mbah Maryam dan Mbah Suhadi adalah alarm keras bagi penuntasan kemiskinan ekstrem di Kabupaten Rembang. Dibutuhkan langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah, khususnya melalui program stimulans RTLH dan pembangunan sanitasi sehat.
Namun, tanggung jawab ini tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Kolaborasi lintas sektor sangat dinantikan.
Pemerintah Daerah: Akselerasi bantuan sosial, bedah rumah (RTLH), dan pembuatan jamban sehat.
BUMN & BUMD: Penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang tepat sasaran untuk kemiskinan ekstrem.
Sektor Swasta/Pengusaha Lokal: Gotong royong kemanusiaan untuk memberikan bantuan cepat (kasur layak, sembako, dan material bangunan).
Transformasi hidup yang lebih layak bagi Mbah Maryam dan Mbah Suhadi tidak bisa ditunda lagi. Uluran tangan kita hari ini adalah kepastian esok hari yang lebih manusiawi bagi mereka.












