Sikap Wira’i dan Keteguhan Hati Menghadapi Ujian Jadi Bahasan Utama dalam Ngaji Selapanan Majelis Taajul Qudrah



Foto: Ustat Maskuri Saat memimpin ngaji di Majelis Taajul Qudrah Asmaul Husna di Desa Krikilan (Lp3tv/Admin)

REMBANG, Lp3tv. Com — Majelis Taajul Qudrah Asmaul Husna kembali menggelar pengajian rutin selapanan (setiap 36 hari sekali) pada Sabtu malam. Acara yang dimulai tepat pukul 21.00 WIB ini dipimpin langsung oleh Ustadz Maskuri dan dihadiri oleh puluhan jamaah yang tampak antusias menimba ilmu agama di tengah sejuknya malam.

Namun, ada momen yang cukup menyentuh sebelum kajian kitab resmi dimulai. Ustadz Maskuri mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk merapatkan shaf dan bersama-sama mengirimkan doa khusus bagi keselamatan serta kesehatan budayawan sekaligus tokoh bangsa, Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Momentum ini bertepatan yang baru-baru ini adalahdengan hari ulang tahun Cak Nun yang ke-73 tahun.

Menurut pandangan Ustadz Maskuri, sosok Cak Nun bukan sekadar tokoh biasa, melainkan figur inspiratif multitalenta yang telah memberikan banyak keteladan hidup yang positif bagi lintas generasi di Indonesia.


Memasuki agenda utama, pengajian malam itu membedah isi dari Kitab Wasiyatul Mustofa. Pada kesempatan kali ini, bahasan difokuskan pada sebuah konsep fundamental dalam spiritualitas Islam, yaitu sikap wira’i (atau yang sering disebut wara’).

“Istilah wira’i adalah sikap kehati-hatian dalam agama Islam untuk menjauhkan diri dari perkara yang haram serta hal-hal yang bersifat syubhat yakni perkara yang samar atau belum jelas status halal dan haramnya. Sikap ini sangat penting agar hati kita tetap bersih dan senantiasa terjaga dari noda maksiat,” jelas Ustadz Maskuri di hadapan para jamaah yang menyimak dengan takzim.

Beliau juga menambahkan bahwa di era modern yang penuh dengan keterbukaan dan ketidakpastian informasi seperti sekarang, membentengi diri dengan sikap wira’i menjadi urgensi tersendiri demi menjaga kesucian batin dari hal-hal yang meragukan.

Untuk memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana mengaplikasikan keteguhan iman di dunia nyata, Ustadz Maskuri menceritakan sebuah kisah pilu penuh hikmah tentang seorang perempuan yang diuji oleh Allah SWT dengan ujian yang sangat berat secara bertubi-tubi.

Perempuan dalam kisah tersebut harus mengikhlaskan kepergian lima anggota keluarga intinya sekaligus. Empat orang anaknya meninggal dunia secara bertubi-tubi.

Sementara itu, sang suami menyusul wafat akibat kelelahan yang luar biasa saat berusaha mencari dan menyusul anaknya yang hilang di kawasan pegunungan.

Meski diterpa badai ujian yang seolah tiada henti, perempuan tersebut justru menunjukkan kualitas sabar yang luar biasa dan tidak mengeluh.



“Setiap ujian, jika kita mampu melewatinya dengan lapang dada, maka kita pasti akan mendapatkan kebaikan dari Tuhan atas ketetapan-Nya. Orang yang mendapatkan nikmat lalu ia bersyukur, dan ketika diberi ujian ia mau bersabar, serta segera sadar dan memohon ampunan ketika melakukan kesalahan, InsyaAllah dosanya dimaafkan dan mendapat balasan surga,” ungkap Ustadz Maskuri.

Lebih lanjut, beliau melemparkan pertanyaan reflektif yang menggugah kesadaran jamaah mengenai hakikat bersyukur. Menurutnya, mengucapkan kalimat Alhamdulillah saat mendapatkan nikmat adalah hal yang lumrah dan biasa dilakukan semua orang.

Namun, tetap mampu mengucap Alhamdulillah di kala badai ujian datang melanda adalah cerminan dari tingkat keimanan yang sangat tinggi.

“Maka dari itu, kuncinya adalah proporsional. Jika diberikan nikmat jangan senang secara berlebihan, dan jika ditimpa musibah jangan pula bersedih secara berlebihan,” pesan beliau.



Setelah pemaparan Kitab Wasiyatul Mustofa selesai, suasana pengajian menjadi lebih interaktif memasuki sesi tanya jawab yang membahas berbagai problematika kehidupan sehari-hari.

Salah seorang jamaah bernama Irhamun mengajukan sebuah pertanyaan yang kerap memicu keraguan di tengah masyarakat: “Mana yang harus didahulukan, aqiqah atau kurban?”tanya Irhamun.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ustadz Maskuri memberikan penjelasan yang sangat komprehensif, logis, dan berdasar pada hukum fikih Islam. Beliau menegaskan bahwa pada prinsipnya, tidak ada syarat dalam Islam yang mengharuskan seseorang melakukan aqiqah terlebih dahulu agar sah berkurban, karena keduanya merupakan ibadah sunah yang berdiri sendiri (mustaqil).

“Prioritas pelaksanaannya tentu sangat tergantung pada momentum, situasi, serta kemampuan finansial Anda saat ini. Apabila waktu sudah mendekati Hari Raya Idul Adha seperti sekarang ini, maka mendahulukan ibadah kurban adalah pilihan yang lebih utama daripada melaksanakan aqiqah,” jawab Ustadz Maskuri.

Hal ini didasari oleh aspek waktu pelaksanaan, kurban memiliki batas waktu yang sangat sempit dan mengikat (hanya pada bulan Dzulhijjah/Hari Tasyrik), sementara aqiqah memiliki fleksibilitas waktu yang jauh lebih longgar dan bisa dilaksanakan kapan saja hingga anak mencapai usia baligh.

Menariknya, Ustadz Maskuri juga memberikan solusi alternatif solutif bagi jamaah yang memiliki kelapangan rezeki namun dihadapkan pada dilema ingin melaksanakan keduanya sekaligus.

Beliau menyarankan jamaah untuk mengikuti ijtihad hukum dari Imam Ramli, yang memperbolehkan penggabungan dua niat dalam satu kali sembelihan hewan.

Untuk memperkuat argumentasinya, Ustadz Maskuri menyitir referensi otentik yang mengacu pada Kitab Tausyih karya ulama nusantara terkemuka, Syekh Nawawi al-Bantani.

قال ابن حجر لو أراد بالشاة الواحدة الأضحية والعقيقة لم يكف خلافا للعلامة الرملى حيث قال ولو نوى بالشاة المذبوحة الأضحية والعقيقة حصلا

Artinya,”Ibnu Hajar berkata bahwa seandainya ada seseorang menginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan aqiqah, maka hal ini tidak cukup. Berbeda dengan al-‘Allamah Ar-Ramli yang mengatakan bahwa apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya dapat terealisasi.

Melalui penjelasan yang gamblang tersebut, para jamaah mendapatkan pencerahan fikih yang moderat dan aplikatif. Pengajian rutin selapanan ini pun berjalan dengan sangat khidmat, tertib, dan diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan seluruh umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *