Sang Mranggi Dari Dusun Kedungsapen Desa Hati-hati Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang.(Lp3tv/Admin).
Rembang, Lp3tv.Com – Di sebuah sudut tenang Dusun Kedungsapen, Desa Jatihadi, Kecamatan Sumber, deru halus amplas dan aroma kayu yang khas memenuhi udara. Di sinilah Mabrur, seorang perajin mranggi (pembuat sarung keris), mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan salah satu warisan budaya paling luhur di Jawa.
Bagi Mabrur, membuat warangka bukan sekadar memproduksi wadah senjata tajam. Baginya, warangka adalah “busana” yang memberikan martabat dan nyawa pada sebilah keris.

Dalam menjalankan usahanya, Mabrur memegang prinsip yang sangat ketat terkait kualitas. Ia mengaku sengaja membatasi jumlah produksi demi menjaga detail yang sempurna pada setiap karyanya.
“Untuk pembuatan, kami sangat membatasi. Dalam satu bulan, saya hanya menyanggupi pembuatan maksimal lima buah warangka saja,” ujar Mabrur saat ditemui di lokasi.

Pembatasan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, setiap lekukan (luk) dan sudut warangka tidak boleh dibuat asal-asalan.
Semuanya harus melalui proses perasaan yang mendalam agar selaras dengan bilah keris yang akan menghuninya.
“Ini bukan sekadar kerja fisik, tapi memadukan rasa,” tambahnya.

Sering kali orang awam bertanya-tanya mengenai harga warangka yang bisa mencapai jutaan rupiah. Mabrur menjelaskan bahwa dalam filosofi Jawa, ada istilah “Ana Rega, Ana Rupa” (Ada harga, ada kualitas).
Ada tiga faktor utama yang menentukan nilai sebuah warangka.
Kelangkaan bahan baku sering menggunakan kayu-kayu langka seperti kayu Timoho yang sudah sangat sulit didapatkan.
Motif Alami Kayu: Setiap potong kayu memiliki motif atau pelet yang unik dan berbeda satu sama lain. Semakin indah dan langka motifnya, semakin tinggi nilainya.
Ketelitian dalam mengolah kayu mentah hingga menjadi karya seni yang halus dan presisi membutuhkan keahlian tingkat tinggi yang tidak bisa dilakukan secara instan.
Mabrur mulai menekuni bidang ini secara mendalam sejak tahun 2018. Bagi beliau, menjadi seorang mranggi adalah bentuk kecintaan terhadap nilai budaya bangsa.
Namun, lebih dari itu, ada ajaran spiritual yang ia temukan dalam proses berkarya.
Salah satu bentuk warangka yang sering ia garap menyerupai bentuk perahu. Hal ini mengandung filosofi mendalam tentang eksistensi manusia.
“Mengapa bentuknya seperti perahu? Karena sejatinya manusia itu seperti berada di atas perahu yang sedang mengarungi samudera kehidupan. Di sini kita diajarkan untuk selalu merasa bodoh agar terus belajar, dan terus bekerja sambil belajar,” tutur Mabrur dengan nada filosofis.
Mabrur berharap apa yang ia kerjakan di Dusun Kedungsapen ini bisa terus menjadi bagian dari penjaga identitas bangsa.
Di tengah gempuran zaman modern, ia membuktikan bahwa seni tradisional tetap memiliki tempat istimewa, asalkan dikerjakan dengan integritas dan rasa cinta yang besar terhadap budaya.
Bagi para kolektor atau pecinta keris yang mencari sentuhan artistik dari tangan Mabrur, kesabaran adalah kunci karena keindahan yang lahir dari “rasa” memang tidak bisa diburu-buru oleh waktu.












