Foto: Mbah Kasnadi Yang Puluhan Tahun dalam Kelumpuhan di Desa Kedungasem Kecamatan Sumber. (Lp3tv/Admin)
REMBANG, Lp3tv.com – Di sebuah sudut Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, waktu seolah berhenti bagi Mbah Kasnadi (65). Selama lebih dari empat dekade, pria yang hidup sebatang kara ini hanya bisa menatap dunia dari tempat tidurnya.
Namun, di balik keterbatasan fisiknya, tersimpan sebuah keinginan sederhana yang sangat mendalam, bertemu dengan pemimpin daerahnya, Bupati Rembang, Harno.

Kisah pilu Mbah Kasnadi bermula sekitar tahun 1980. Sang keponakan, Darwanti, menceritakan bahwa petaka itu bermula dari demam tinggi yang menyerang pamannya sesaat setelah menjalani prosesi khitan di masa kecil.
“Awalnya panas tinggi setelah khitan. Sempat sembuh satu minggu, tapi tiba-tiba lumpuh total sampai sekarang,” kenang Darwanti saat ditemui pada Kamis (23/4/2026).

Sejak saat itu, hari-hari Mbah Kasnadi dihabiskan dalam sunyi. Meski sang istri bupati (Ibu Harno) sempat berkunjung saat masa pencalonan dulu, sosok Pak Harno sendiri tetap menjadi kerinduan yang belum terwujud bagi sang kakek.
“Aku kepengen ketemu Pak Harno…” ucapnya lirih dalam bahasa Jawa, sebuah permintaan tulus yang kini menjadi perhatian publik.

Meski kondisinya memprihatinkan, sebuah ironi birokrasi terungkap dalam kunjungan lintas instansi (Dinsos, BPS, dan Pemdes).
Mbah Kasnadi tercatat berada pada Desil 6 hingga 10 dalam data nasional sebuah kategori yang menganggapnya tidak layak menerima bantuan sosial (bansos).
Kepala BPS Kabupaten Rembang, Jubaedi, menduga ada ketidaksinkronan data lama, seperti dugaan kepemilikan aset yang sebenarnya tidak dimiliki Mbah Kasnadi.

“Secara fisik beliau sangat layak dibantu. Namun sistem Desil bersifat nasional. Solusinya adalah pemutakhiran data segera,” tegas Jubaedi.
Menanggapi isu adanya pembiaran, Kepala Desa Kedungasem, Zulianah, angkat bicara dengan tegas. Ia memastikan pihak desa selalu menempatkan Mbah Kasnadi sebagai prioritas.
Kabid Linjamdayasos, Sutartik, akan mengusulkan perubahan status ekonomi Mbah Kasnadi dengan lampiran Surat Pertanggungjawaban Mutlak (SPTJM).
Petugas pendamping PKH akan segera diterjunkan untuk memastikan data sistem sesuai dengan realita kemiskinan di lapangan.
Pemanfaatan aplikasi Cek Bansos untuk mempercepat proses birokrasi yang biasanya memakan waktu hingga tiga bulan.
Kunjungan pejabat dari berbagai instansi ini diharapkan bukan sekadar seremoni. Bagi Mbah Kasnadi, ini adalah secercah harapan agar di sisa usianya, ia tak lagi “terlupakan” oleh sistem, dan keinginannya untuk berjabat tangan dengan orang nomor satu di Rembang dapat segera terwujud.












