Foto: Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Desa Sidowayah, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. (Lp3tv/Admin)
REMBANG, Lp3tv.com — Produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Desa Sidowayah, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil mencatatkan prestasi gemilang dengan memperluas jangkauan pasar hingga ke ranah internasional. Produk terasi kemasan inovatif dengan merek dagang “Terasi Oven Alyssa” tersebut kini telah berhasil dipasarkan ke sejumlah negara di kawasan Asia dan Timur Tengah.
Sektor industri rumahan ini sukses memelopori inovasi pengolahan udang rebon menjadi produk siap konsumsi dengan pengemasan modern, yang sekaligus menjadi media promosi efektif bagi potensi daerah di kancah global.
Pemilik sekaligus produsen Terasi Oven Alyssa, Dian Nurshintorini, mengungkapkan bahwa ide standardisasi kemasan dan metode pengolahan ini berawal dari pengalaman pribadinya saat menempuh studi di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, pada awal tahun 2000-an.
Guna menyokong biaya perkuliahan secara mandiri, ia kerap membawa terasi khas Rembang untuk dipasarkan di lingkungan tempat tinggalnya di Semarang. Namun, karakteristik aroma terasi mentah yang sangat menyengat kerap menimbulkan keluhan dari pengguna transportasi umum yang ia tumpangi.
“Aroma terasi tetap tercium tajam meskipun saat itu sudah dibungkus berlapis-lapis dengan kertas koran, plastik, hingga bubuk kopi untuk menyamarkan baunya. Dari kendala logistik dan kenyamanan tersebut, saya mulai memikirkan metode pengolahan alternatif agar terasi khas daerah kami dapat dibawa secara praktis tanpa mengganggu kenyamanan publik di ruang terbuka,” ujar Dian pada Senin (8/6/2026).
Melalui serangkaian uji coba yang panjang, Dian menerapkan metode pengeringan komoditas menggunakan oven penunjang. Proses termal ini menghasilkan karakteristik terasi yang jauh lebih kering, memiliki daya simpan (thrive-time) lebih lama, higienis karena tidak mudah berjamur, serta mampu mereduksi intensitas aroma secara signifikan tanpa mengurangi cita rasa gurih khas udang rebon Rembang. Produk hilir tersebut kemudian dikemas dalam wadah stoples kecil kedap udara (air-tight jar).
Pasca-relokasi domisili ke Tangerang Selatan pada tahun 2012, Dian memperluas penetrasi pasar melalui strategi pemasaran langsung (direct marketing) ke komunitas-komunitas lokal.
Seiring dengan tren digitalisasi perniagaan nasional, sistem pemasaran kemudian diintegrasikan secara masif melalui platform media sosial populer seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.
Akselerasi usaha secara formal dilakukan secara intensif pada masa pandemi Covid-19. Dian memanfaatkan momentum pembatasan sosial tersebut untuk memenuhi seluruh standardisasi legalitas usaha yang diperlukan.
Langkah pemenuhan regulasi tersebut meliputi perolehan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), Sertifikasi Halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga Pendaftaran Hak Merek Dagang resmi ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
“Pemenuhan aspek legalitas ini sangat krusial untuk meningkatkan sosiometri kepercayaan konsumen. Terutama ketika pasar pasca-pandemi mulai sangat kritis mempertanyakan aspek higienitas, rantai pasok yang bersih, serta kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi kesehatan,” tutur Dian menjelaskan pentingnya dokumen formal usaha.
Langkah ekspansi internasional dimulai secara bertahap pada tahun 2021 melalui fasilitas penayangan sampel produk (product display) di wilayah kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong.
Respons positif yang datang dari komunitas diaspora Indonesia membuka keran permintaan ekspor informal dalam volume yang menjanjikan. Selain pasar Hong Kong, produk ini juga merambah pasar Qatar via jaringan pekerja sektor minyak dan gas (migas) yang menyasar komoditas pangan asli Nusantara.
Pada Mei 2025, Terasi Oven Alyssa terus melebarkan sayapnya dengan turut serta dalam forum penjajakan ekspor bilateral (buyer-matching) ke kawasan Afrika yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kenya.
Kendati peluang pasar terbuka lebar dan minat mitra internasional cukup tinggi, Dian mengakui aktivitas ekspor skala besar masih menghadapi tantangan tersendiri, khususnya pada penguatan sistem mitigasi risiko pembayaran dari calon mitra luar negeri serta konsistensi logistik pengiriman.
Saat ini, kapasitas produksi harian Terasi Oven Alyssa berada pada kisaran 50 hingga 100 botol per hari, dengan harga penawaran yang sangat kompetitif, yakni Rp20.000 per botol. Volume permintaan dilaporkan mengalami fluktuasi positif hingga melonjak tiga kali lipat menjelang hari raya keagamaan nasional seperti Idulfitri dan momentum Tahun Baru.
Menanggapi pencapaian impresif tersebut, Sub Koordinator Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang, Darmuji, menyatakan bahwa Terasi Oven Alyssa merupakan salah satu representasi konkret dari keberhasilan pemutakhiran produk lokal di Rembang.
Berdasarkan data taksonomi UMKM milik dinas terkait, pelaku usaha terasi yang bersedia mengadopsi manajemen pengemasan modern dan adaptif terhadap teknologi pengolahan seperti ini terbukti mampu menaikkan kelas komoditas tradisional menjadi produk premium bernilai ekspor.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memberikan asistensi dan ruang pameran strategis agar inovasi serupa dapat direplikasi oleh para pelaku industri kreatif lainnya di Kabupaten Rembang.












