REMBANG, Lp3tv.com – Lahan tambak garam seluas 1.855 meter persegi di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, berubah menjadi kanvas seni raksasa yang memukau. Melalui kolaborasi Komunitas Pusaka Dasun bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Daya Pasca Salur (Dana Indonesian), dan LPDP, perhelatan seni budaya bertajuk Festival Garam: “Ketika Garam Menjadi Bahasa” sukses digelar dan menyedot perhatian antusias dari masyarakat lokal maupun wisatawan luar daerah.
Festival unik ini menghadirkan karya lukisan dari media garam di atas tambak sebagai sarana bertutur tentang keharmonisan antara lahan tambak, laut, serta realitas kehidupan para petani garam dan nelayan setempat.
Kurator perhelatan, Eggy Yunaedi, menjelaskan bahwa karya interaktif ini memadukan kearifan lokal dan ekspresi artistik. Dalam proses pembuatannya, para petani garam Dasun bahu-membahu dengan 10 seniman residensi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka menginterpretasi ulang gagasan seni yang dahulu pernah dimulakan oleh masyarakat petani garam bersama almarhum maestro seni, Nasirun.
Di atas hamparan lahan tambak tersebut, terlukis gambaran visual sesaji sedekah laut sebagai wujud ungkapan rasa syukur. Mahakarya tersebut dikelilingi ornamen simbolis kehidupan bahari, mulai dari ragam hasil tangkapan laut, sosok mitologi Gajah Mina sang penjaga laut, biota renik, hingga ekosistem hutan mangrove.
Kolaborasi Seniman Lintas Daerah
Keberhasilan mahakarya lukisan garam ini tidak lepas dari sinergi kreatif para seniman residensi lintas kota, di antaranya.
Andita Purnamasari & Sonia Prabowo, Tri Wahyudi (Yogyakarta)
Qilur Rachman Abdul Charizs (Jakarta)
Budi Karya (Jepara)
Dwiki Naufal Ilham (Lasem)
Kharisma Widya Kartika (Rembang)
Munna Laili Hidayana (Kediri)
Prabowo Setyadi (Jatiwangi)
Putut Asopati (Pati)

Proses teknis dan artistik di lapangan turut didampingi oleh tim pendamping berpengalaman yang terdiri dari Dalang Pri, Dhe Tejo, Eddy Soeryono, Sofyan Deer, dan Yoyok Van Badem.
Geliat Ekonomi dan Potensi Pariwisata Daerah
Keunikan instalasi seni di atas tambak garam ini terbukti menjadi magnet kuat bagi para pelancong. Pramudiya, salah seorang pengunjung asal Tulungagung, Jawa Timur, mengaku rela menempuh perjalanan darat selama enam jam demi menyaksikan langsung festival ini setelah melihat unggahannya di media sosial TikTok.
“Ini hal baru bagi saya, baru pertama kali mengunjungi karya seni dengan bahan garam seperti ini. Harapannya acara ini terus dikembangkan karena selain mengangkat potensi seni budaya lokal di Rembang, juga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar,” ujar Pramudiya.

Nada apresiasi serupa disampaikan oleh Aya, pengunjung asal Rembang. Menurutnya, ajang edukatif dan atraktif seperti ini sangat efektif dalam mengenalkan kebudayaan daerah ke kancah yang lebih luas sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata Kabupaten Rembang.
Melalui perpaduan seni, budaya, dan potensi ekonomi pesisir, Festival Garam Dasun diharapkan dapat terus berlanjut sebagai agenda tahunan yang memberi dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat setempat.












