Kecamatan Kaliori Pembenihan Sistem Dapok Kian Naik Daun, Pesanan Melosos hingga Luar Daerah

Petani Kecamatan Kaliori Pembenihan Sistem Dapok. (Lp3tv/Admin)



REMBANG, LP3TV.COM — Modernisasi pertanian di Kabupaten Rembang bukan lagi sekadar wacana. Memasuki Musim Tanam Ketiga (MT 3) di tahun 2026 ini, para petani di Kecamatan Kaliori berbondong-bondong beralih ke metode ramah teknologi: sistem pembenihan padi model dapok. Hasilnya? Permintaan bibit siap tanam ini melonjak drastis karena dinilai jauh lebih efisien dan rapi.

Salah satu motor penggerak tren ini adalah Abdul Jalil, petani sekaligus penyedia pembenihan sistem dapok asal Desa Maguan, Kecamatan Kaliori.

Menurutnya, popularitas sistem ini melejit karena menawarkan kepraktisan yang tidak bisa ditemukan pada sistem konvensional.

Banjir Pesanan Hingga Lintas Kabupaten
Antusiasme tinggi ini membuat wilayah pemasaran Abdul Jalil meluas cepat. Kini, ia tidak hanya melayani petani tetangga, melainkan sudah merambah lintas daerah.

“Untuk MT 3 tahun 2026 ini, pemesanan pembenihan padi sistem dapok di Kecamatan Kaliori—yang berpusat di Desa Maguan—mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pesanan datang dari berbagai desa, seperti Desa Meteseh, Desa Maguan sendiri, bahkan hingga luar kabupaten yaitu ke Desa Ndahan di Kabupaten Pati,” ujar Abdul Jalil optimis di sela kesibukannya.

Tak main-main, untuk musim tanam kali ini saja, Abdul Jalil memperkirakan total benih yang ia kelola mampu menghijaukan area persawahan seluas 3 hektare.

Salah satu daya tarik utama dari jasa Abdul Jalil adalah skema kerja sama yang antiribet. Ia menerapkan sistem paket terintegrasi. Artinya, petani cukup membayar satu kali, dan semua proses—mulai dari penyediaan benih, perawatan semai, hingga proses penanaman langsung di sawah menggunakan mesin—akan diurus seluruhnya oleh tim Abdul Jalil. Petani tinggal terima beres.

Meski demikian, dinamika pasar tak bisa dihindari. Akibat melambungnya harga bahan baku utama di pasaran, Abdul Jalil terpaksa melakukan penyesuaian tarif pada musim ini.

Jika dulu ia mematok harga Rp600.000 per satu kotak lahan (estimasi luas ±1.400 m^2), kini tarifnya naik menjadi Rp700.000 per kotak. Namun, harga tersebut dinilai tetap ekonomis mengingat fasilitas penuh yang didapatkan petani dari hulu ke hilir.

Kendati menawarkan efisiensi tinggi, sistem dapok bukan tanpa tantangan. Abdul Jalil menekankan bahwa kunci sukses sistem ini sangat bergantung pada kondisi fisik lahan itu sendiri.

Sistem dapok menuntut persiapan tanah yang jauh lebih matang dan presisi dibandingkan sistem tanam manual.

Kendala Utama: Permukaan tanah sawah harus benar-benar rata, stabil, dan tidak bergelombang.

Dampaknya: Kemiringan atau tanah yang tidak rata akan mengganggu jalannya mesin penanam (transplanter). Akibatnya, tancapan bibit bisa menjadi kurang rapi atau bahkan terlewat.

Terlepas dari tantangan teknis tersebut, Abdul Jalil tetap menjamin bahwa sistem dapok adalah masa depan pertanian padi yang lebih modern. Jika lahan dipersiapkan dengan baik sejak awal, keuntungan yang dipetik petani justru akan jauh lebih melimpah.

Sebagai informasi, benih padi yang disemai dengan sistem dapok ini umumnya memiliki masa tunggu yang relatif singkat, yaitu siap dipindahkan ke lahan produktif saat memasuki usia 15 hingga 25 hari.

“Sebenarnya, dengan sistem dapok ini penanaman padi menjadi jauh lebih serasi dan tertata rapi. Selain estetika pertumbuhan yang bagus, tanaman padi yang tertanam dengan serasi seperti ini juga menjadi jauh lebih mudah untuk dirawat dan disiangi oleh petani,” pungkas Abdul Jalil menyudahi perbincangan dengan nada optimistis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *