Daerah  

Menilik Eksistensi Bubut Kayu Manual di Kuniran Pati Yang Tergolong Murah.

Foto: Hasil setengah jadi Handle di Desa Kuniran. (Lp3tv/Admin)

PATI, Lp3tv. Com – Di tengah gempuran teknologi mesin otomatis dan modernisasi industri, geliat industri kreatif berbasis kearifan lokal masih menunjukkan taringnya di Kabupaten Pati. Tepatnya di Dusun Bungkus, Desa Kuniran, Kecamatan Batangan, deru mesin bubut kayu manual masih terdengar nyaring, menjadi denyut nadi ekonomi warga setempat yang tetap eksis hingga saat ini.

Industri rumahan ini bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa, melainkan sebuah bukti ketangguhan pengrajin lokal dalam menjaga kualitas dan keaslian produk.

Salah satu sosok yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah eksistensi industri ini adalah Daryono, seorang pengrajin bubut kayu kawakan yang telah mendedikasikan dirinya di bidang ini selama puluhan tahun.

Daryono mengungkapkan bahwa ia mulai menekuni seni bubut kayu sejak tahun 2001. Selama 25 tahun terakhir, jemari terampilnya telah mengubah ribuan balok kayu mentah menjadi produk bernilai guna tinggi.

Baginya, membubut kayu secara manual memerlukan ketelitian, konsentrasi, dan rasa (feeling) yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin CNC modern.

“Saya sudah menekuni usaha bubut ini sejak tahun 2001 yang lalu. Meski sekarang zamannya serba mesin, namun bubut manual masih punya tempat sendiri karena hasilnya lebih personal dan detail,” ujar Daryono saat ditemui di bengkel kerjanya.

Meski menggunakan metode manual, produktivitas yang dihasilkan tidak bisa dipandang sebelah mata.Dalam satu hari kerja, Daryono mampu memproduksi sekitar 300 buah (pcs) gagang (handle) pintu kayu.

Kecepatan dan ketepatan ini ia peroleh dari pengalaman panjang selama berdekade-dekade.Bahan baku kayu yang keras disulap dengan cepat menjadi bentuk-bentuk yang presisi.

Menariknya, di tengah kenaikan berbagai harga kebutuhan, harga jasa pembuatan handle pintu ini masih tergolong sangat terjangkau bagi para pengepul maupun pelanggan.

“Untuk jasa pembuatan satu buah handle, saya mematok harga relatif murah, yaitu Rp2.000 per biji. Fokus kami adalah menjaga volume produksi tetap lancar dan langganan tetap setia,” imbuhnya.

Dusun Bungkus ini telah diakui secara luas. Daryono menyebutkan bahwa sebagian besar pesanan yang masuk ke bengkelnya berasal dari wilayah Juwana.

Sebagaimana diketahui, Juwana merupakan pusat industri logam dan kuningan yang juga dikenal sebagai sentra perlengkapan rumah tangga.

Handle pintu kayu hasil bubutan Daryono biasanya akan dipadukan dengan aksesoris logam dari Juwana untuk kemudian didistribusikan ke berbagai kota besar di Indonesia.

“Kebanyakan pesanan datang dari Juwana. Di sana permintaan untuk handle pintu sangat stabil, karena memang pasarnya luas hingga ke luar daerah,” jelas Daryono.

Keberadaan industri bubut kayu manual di Desa Kuniran ini diharapkan mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah, terutama dalam hal pengembangan UMKM dan regenerasi pengrajin.

Mengingat nilai historis dan ekonomi yang tinggi, Dusun Bungkus memiliki potensi besar untuk menjadi desa wisata industri atau sentra kerajinan unggulan di Kabupaten Pati.

Eksistensi Daryono dan para pengrajin di Dusun Bungkus menjadi pengingat bahwa di balik pintu-pintu megah di berbagai penjuru negeri, ada tangan-tangan kreatif dari pelosok desa yang bekerja dengan penuh ketekunan demi menjaga warisan budaya dan ekonomi kerakyatan tetap menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *