Daerah  

Damkar Rembang Garda Terdepan Kedaruratan, Tangani 129 Kasus dalam 3 Bulan

Damkar Rembang tangani Ular yang masuk ke Rumah warga. (Lp3tv/Admin)

REMBANG, Lp3tv.Com – Citra petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) di Kabupaten Rembang kini telah bertransformasi. Tak lagi sekadar pemburu si jago merah, mereka kini menjadi “pahlawan serba bisa” yang diandalkan warga dalam segala situasi darurat.

Sepanjang periode Januari hingga Maret 2026, Damkar Rembang mencatat rekor luar biasa dengan menangani total 129 kejadian.

Menariknya, mayoritas laporan yang masuk justru bukan soal api, melainkan aksi penyelamatan non-kebakaran yang unik sekaligus berbahaya.

Data menunjukkan bahwa evakuasi non-kebakaran mendominasi laporan masyarakat. Mulai dari evakuasi sarang tawon vespa yang mematikan, penanganan ular yang masuk ke pemukiman, hingga aksi heroik menebas pohon tumbang dan menyelamatkan hewan liar.

“Saat ini Damkar semakin dibutuhkan dalam berbagai kondisi darurat. Mayoritas laporan justru evakuasi ular dan tawon vespa. Ini bukti bahwa peran Damkar kini jauh lebih luas bagi masyarakat,” ujar Muhammad Luthfi Hakim, Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Selasa (12/5/2026).

Meski didominasi aksi penyelamatan hewan, ancaman kebakaran tetap menjadi perhatian serius. Selama tiga bulan pertama 2026, beberapa insiden besar sempat menggetarkan warga, di antaranya.

Kebakaran Hebat di Lasem: Rumah di Desa Sumber Girang ludes dengan estimasi kerugian mencapai Rp100 juta.

Titik Lain: Kebakaran rumah di Sedan, bangunan warung di TPI Tasikagung, hingga insiden kendaraan terbakar di jantung Kota Rembang.

Total kerugian material akibat kebakaran di periode ini ditaksir menyentuh angka ratusan juta rupiah.

Kecepatan menjadi kunci. BPBD mencatat bahwa untuk wilayah perkotaan Rembang, petugas berhasil mencapai lokasi kejadian dengan response time kurang dari 10 menit.

Kecepatan ini terus diasah melalui pelatihan berkala dan peningkatan kapasitas personel.

Tak mau hanya bersifat reaktif, Damkar Rembang gencar melakukan serangan “preventif”. Petugas turun langsung ke sekolah-sekolah, pondok pesantren, hingga instansi pemerintah untuk memberikan edukasi cara menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

“Edukasi adalah investasi keselamatan. Kami ingin masyarakat tidak panik dan tahu apa yang harus dilakukan saat melihat potensi bahaya,” tambah Luthfi.

Pemerintah Kabupaten Rembang meminta warga untuk tidak ragu melapor jika menemukan situasi yang mengancam keselamatan, baik itu api maupun gangguan hewan berbahaya.

Sinergi antara laporan cepat masyarakat dan kesiapsiagaan petugas adalah rumus utama dalam menekan angka kerugian dan korban jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *