Foto: Suasana Pasar kambing yang sepi pembeli di Kabupaten Rembang. (Lp3tv/Soleh)
REMBANG, Lp3tv.com – Pemandangan di Pasar Hewan Rembang pada Minggu (1/3/2026) pagi sungguh menipu mata. Secara kasat mata, pasar terlihat lumpuh oleh denyut aktivitas. Puluhan pedagang menyemut, berbaur dengan ratusan ekor ternak yang memenuhi area. Namun, di balik keriuhan itu, tersimpan kisah pilu: geliat transaksi justru mati suri.
Alih-alih pundi-pundi rupiah yang didapat, para pedagang justru pulang dengan keluhan mendalam. Harga kambing disinyalir merosot tajam, atau dalam bahasa mereka, sudah “terjun bebas”. Fenomena ini bak mimpi buruk bagi mereka yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari jula-beli ternak.
Ambruknya harga ini terjadi secara merata, memukul telak seluruh jenis kambing, mulai dari kambing jawa hingga jenis domba. Tak main-main, penurunan harga per ekor diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni Rp300.000 hingga Rp500.000, tergantung bobot dan kondisi fisik hewan.

Lesunya kondisi ekonomi yang tidak stabil diduga menjadi biang kerok utama. Hal ini berdampak pada absensi para pembeli besar (blantik) dari luar daerah yang biasanya menjadi motor penggerak transaksi di pasar ini.
Pahitnya kondisi ini dirasakan langsung oleh Yudi (46), pedagang asal Desa Banyu Urip, Kecamatan Pancur. Wajahnya masygul menatap ternak-ternaknya yang tak kunjung laku dengan harga layak.
”Hari ini benar-benar sepi. Harga kambing yang biasanya mudah laku Rp2,5 juta, sekarang ditawar Rp1,9 juta saja susahnya minta ampun. Kami rugi besar di biaya pakan dan transportasi kalau harganya hancur begini,” tutur Yudi.
Kini, harapan para pedagang dan peternak membubung tinggi kepada pemerintah daerah. Melalui dinas terkait, mereka mengetuk pintu hati penguasa untuk turun tangan memantau stabilitas harga. Mereka bermimpi ada fasilitasi akses pemasaran ke luar wilayah agar harga kambing di Rembang kembali normal, dan keringat para peternak dihargai dengan layak.












