Sapi Unggul Rembang Tembus 100 Ribu Ekor, Anggota DPR RI Siap Kawal Anggaran RPH Modern di Senayan



REMBANG, Lp3tv.com – Sektor peternakan sapi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, tengah berada di atas angin. Hingga pertengahan tahun 2026, populasi sapi di “Bumi Kartini” ini melesat tajam hingga diperkirakan menyentuh angka fantastis: 100 ribu ekor.

Ledakan populasi ini menjadi bukti sahih keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) dalam menggalakkan program Inseminasi Buatan (IB) secara masif dan berkelanjutan.

Lahirkan 30 Ribu Pedet Unggul Setiap Tahun
Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengungkapkan bahwa program IB kini menjadi senjata pamungkas dalam mendongkrak mutu genetik sekaligus produktivitas sapi milik peternak lokal.

Dari total 60 ribu dosis semen beku berkualitas yang disuntikkan kepada indukan sapi setiap tahunnya, angka keberhasilan kelahiran (output) mampu mencapai 50 persen.

“Total inseminasi buatan sekitar 60 ribu dosis dan setiap tahun lahir sekitar 30 ribu pedet hasil bibit unggul,” ujar Agus di sela-sela acara Sarasehan Petani Tembakau dan Serah Terima Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) di halaman Kantor Dintanpan Rembang, Selasa (7/7/2026).

Kualitas fisik yang kokoh, ketahanan tinggi terhadap penyakit, serta laju pertumbuhan daging yang cepat membuat pedet asal Rembang menjadi primadona yang paling diburu oleh para belantik (makelar) dan peternak luar daerah. Namun, tingginya minat pasar luar ini justru menyisakan tantangan tersendiri bagi Rembang.

“Ini sebenarnya potensi yang sangat besar bagi Rembang karena kita menghasilkan bibit-bibit unggul. Namun, sebagian besar justru keluar dan berkembang di luar daerah,” ucap Agus menyayangkan.

Di sisi lain, kesuksesan hulu ini juga dibentengi oleh sistem kesehatan hewan yang solid. Lewat aksi jemput bola vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masif, cakupan vaksinasi di Rembang kini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Jawa Tengah, sekaligus menciptakan zona aman bagi investasi peternakan.

Meski berjaya di sektor budidaya (hulu), langkah Rembang untuk menguasai pasar daging nasional di sektor hilir ternyata masih membentur dinding tebal. Hingga kini, Rembang belum memiliki Rumah Potong Hewan (RPH) yang representatif dan berstandar modern.

Ketiadaan fasilitas cold chain seperti cold storage (gudang pendingin) dan armada pengangkut khusus, membuat Rembang terpaksa lebih banyak mengirim sapi hidup ketimbang daging olahan siap saji. Padahal secara ekonomi, nilai tambah dari produk olahan jauh lebih tinggi.

“Kendalanya kita belum memiliki RPH yang representatif dan rantai dingin yang layak, sehingga belum bisa mengirim produk daging ke luar daerah secara optimal,” jelas Agus terbuka.

Menanggapi keluhan tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo, yang hadir dalam sarasehan tersebut langsung memberikan respons taktis. Politisi senior ini mendorong Pemkab Rembang untuk bergerak cepat “menjemput bola” anggaran pusat melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2027.

Firman menegaskan bahwa peluang alokasi anggaran untuk infrastruktur peternakan, khususnya RPH modern, terbuka sangat lebar di tingkat kementerian pada tahun 2027 nanti. Ia meminta Dintanpan Rembang segera menyusun proposal resmi agar pos anggaran tersebut bisa langsung dikunci dan dikawal ketat di Senayan.

“Rumah potong hewan tahun 2027 itu ada anggaran. Tetapi tolong membuat pengusulan melalui DAK. Nanti Pak Bupati tanda tangan, setelah sampai di Jakarta kirimkan salinannya ke saya, akan saya kawal,” tegas Firman di hadapan para peserta sarasehan.

Firman menambahkan, dirinya telah melakukan koordinasi awal dengan jajaran petinggi di Kementerian Pertanian untuk memastikan potensi besar di hulu peternakan Rembang ini tidak layu sebelum berkembang di hilir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *