Berkah Sedekah Bumi, Produsen Dumbek Desa Gunungsari Rembang Banjir Pesanan Mencapai Ribuan

Produsen Dumbek Desa Gunungsari Rembang yang dibanjiri pesanan mencapai ribuan. (Lp3tv/Admin)

REMBANG, Lp3tv. Com – Memasuki bulan Selo atau yang akrab disapa bulan Apit dalam penanggalan Jawa, aura kemeriahan mulai terasa di pelosok desa di Kabupaten Rembang. Bulan ini menjadi momentum sakral bagi masyarakat setempat untuk menggelar ritual Sedekah Bumi sebagai wujud syukur atas limpahan hasil pertanian dan keselamatan yang diberikan Sang Pencipta.

Namun, ada satu hal yang tak boleh absen dari perayaan ini. Di setiap meja tamu, di sela-sela obrolan hangat warga, selalu tersaji penganan khas berbentuk kerucut lilitan janur (Dumbek).

Dumbek bukan sekadar kudapan berbahan tepung beras, santan, dan gula merah. Bagi masyarakat Rembang, Dumbek adalah simbol perekat silaturahmi.



Teksturnya yang kenyal dengan aroma wangi janur alami menjadikannya sajian wajib yang selalu diburu, baik oleh warga lokal maupun kerabat yang datang dari luar daerah saat momen Apitan.

“Belum sah rasanya kalau bertamu saat Sedekah Bumi tapi tidak ada Dumbek di meja,” ujar Rozak, salah satu warga saat ditemui di sela perayaan desa.

Tingginya antusiasme warga merayakan Sedekah Bumi membawa berkah tersendiri bagi para pengrajin Dumbek.

Salah satunya adalah Desti, produsen Dumbek asal Dusun Ngumpleng, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori.

Pada hari Minggu ini, dapur produksi milik Desti tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Asap mengepul dari tungku-tungku besar, aroma manis gula kelapa menyeruak ke seluruh penjuru ruangan.

Desti mengungkapkan bahwa permintaan melonjak tajam seiring banyaknya desa yang menggelar acara secara bersamaan.

“Alhamdulillah, hari ini pesanan Dumbek di tempat kami mencapai 5.000 biji. Ini luar biasa karena bertepatan dengan puncak acara Sedekah Bumi di berbagai titik,” ungkap Desti dengan raut wajah sumringah.

Meski harus mengejar target ribuan biji, Desti tidak ingin gegabah dalam proses produksi. Baginya, kualitas adalah kunci utama mengapa pelanggan terus kembali ke Dusun Ngumpleng.

Proses melilit janur (wadah Dumbek) hingga komposisi adonan tetap dijaga secara tradisional agar rasa otentiknya tidak hilang ditelan zaman.

“Harapan saya, ke depannya kami dapat konsisten mempertahankan citarasanya. Karena Dumbek ini adalah wajah kuliner Rembang,” tambah Desti.

Tradisi yang Menghidupkan Ekonomi
Fenomena membludaknya pesanan di tempat Desti membuktikan bahwa tradisi Sedekah Bumi memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi UMKM di pedesaan.

Selain melestarikan budaya, perayaan di bulan Apit ini terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan melalui sektor kuliner tradisional.

Kini, ribuan Dumbek dari Gunungsari tersebut telah siap didistribusikan ke meja-meja tamu di berbagai desa, siap menyambut hangatnya jabat tangan dan doa-doa syukur dalam perayaan Sedekah Bumi tahun ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *