Foto: Lokasi dusun Jatirejo sebagai sentra penghasil buah kedondong (Lp3tv/Admin)
REMBANG, Lp3tv.Com – Dusun Jatirejo, Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai kiblat penghasil kedondong di Kabupaten Rembang. Di balik hamparan hijau seluas puluhan hektar, tersimpan kisah ketangguhan petani dalam menghadapi dinamika pasar demi menyekolahkan anak cucu hingga ke perguruan tinggi.
Meski dikenal sebagai sentra utama, para petani saat ini harus memutar otak akibat penurunan harga yang cukup tajam. Mbah Saminu, tokoh petani setempat, memaparkan bahwa harga saat ini berada jauh di bawah harga puncak yang pernah menyentuh Rp7.000 per kilogram.
Grade Besar/Sedang: Rp3.000 /kg
Grade Kecil: Rp2.600 /kg
“Memang ada penurunan signifikan, tapi semangat kami tidak luntur. Volume produksi yang besar masih memungkinkan kami meraup untung,” ungkap Mbah Saminu.
Bagi Mbah Saminu, kedondong bukan sekadar tanaman, melainkan investasi masa depan. Dengan mengelola 400 pohon, ia mampu meraup omzet hingga Rp40 juta per tahun.

Angka yang fantastis ini menjadi bukti nyata bahwa komoditas lokal jika dikelola dengan tekun bisa memberikan kesejahteraan yang melampaui ekspektasi.
“Alhamdulillah, dari hasil kedondong ini kami bisa membantu perekonomian keluarga, bahkan sampai membiayai kuliah cucu,” tuturnya dengan nada bangga.
Tak hanya menjual buah, Mbah Saminu juga mengembangkan unit pembibitan mandiri. Bibit berkualitas ia jual seharga Rp15.000 per batang, sebuah langkah diversifikasi pendapatan sekaligus upaya regenerasi tanaman kedondong di wilayah Bulu.
Menghadapi harga kedondong yang fluktuatif, petani di Jatirejo menerapkan strategi Tumpang Sari. Dwi Harsono, petani asal Desa Jukung yang juga menggarap lahan di wilayah tersebut, menjelaskan bahwa tanah di bawah naungan pohon kedondong tidak dibiarkan menganggur.

Para petani memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam jagung. Karena jagung memiliki masa panen yang singkat (hitungan bulan), komoditas ini menjadi “bantalan ekonomi” saat harga kedondong sedang merosot.
“Otomatis penghasilan petani tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman. Jika kedondong turun, kami masih punya jagung untuk menutupi kebutuhan,” kata Dwi.
Dengan hamparan lahan mencapai lebih dari 10 hektar dalam satu hamparan, Dusun Jatirejo memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi Kawasan Agrowisata.
Wisatawan tidak hanya bisa menikmati suasana perkebunan yang asri, tetapi juga belajar proses budidaya hingga pembibitan langsung dari ahlinya.












