Foto: Ilustrasi budaya ngalungi sapi (Lp3tv.com/Ai)
REMBANG, LP3tv.Com – Di tengah arus modernisasi pertanian, masyarakat pedesaan di Kabupaten Rembang masih teguh memegang teguh kearifan lokal. Memasuki hari Jumat Pahing di bulan Rajab, para peternak di berbagai desa serentak melaksanakan tradisi leluhur yang dikenal dengan sebutan Ngalungi Kewan.
Ritual ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah upacara adat yang sarat akan nilai filosofis sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, keselamatan, serta kelangsungan hidup hewan ternak.
Bagi masyarakat Jawa, hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing memiliki kedudukan terhormat sebagai “Rojo Koyo” atau raja kekayaan. Hewan-hewan tersebut dianggap sebagai mitra kerja dan penopang utama ekonomi keluarga.
Pemilihan waktu pelaksanaan pada bulan Rajab, khususnya pada hari Jumat Pahing, didasarkan pada perhitungan kalender Jawa (weton) yang dianggap sakral. Waktu tersebut diyakini sebagai momen terbaik untuk memanjatkan doa agar hewan ternak terhindar dari berbagai wabah penyakit (pagebluk) serta dapat berkembang biak dengan produktif.
Tradisi Ngalungi Kewan melibatkan tahapan-tahapan yang mengandung simbolisme mendalam bagi hubungan manusia dengan alam:
Pembuatan Kalung Janur: Peternak menganyam janur (daun kelapa muda) menjadi untaian kalung. Janur secara etimologi sering dimaknai sebagai “Jatining Nur” atau cahaya sejati, yang merepresentasikan harapan akan datangnya cahaya kebaikan dan keselamatan.
Persiapan Sesaji dan Kenduri: Di area dekat kandang, disiapkan nasi tumpeng lengkap dengan sayur-mayur, jajan pasar, serta kembang setaman. Unsur-unsur ini melambangkan hasil bumi yang harus disyukuri.
Doa Bersama (Ujub): Dipimpin oleh sesepuh desa atau kaum, doa dipanjatkan dengan perpaduan ayat suci dan rapalan doa bahasa Jawa. Tujuannya adalah memohon perlindungan bagi pemilik maupun hewan ternaknya.
Prosesi Mengalungkan Janur: Sebagai puncak acara, pemilik ternak mengalungkan janur ke leher hewan mereka, terkadang disertai dengan memercikkan air bunga sebagai simbol pembersihan dan pemberkatan.
Di luar aspek spiritual, Ngalungi Kewan menjadi sarana mempererat tali silaturahmi. Tradisi kenduri memaksa warga untuk berkumpul, duduk bersama, dan berbagi makanan, yang pada akhirnya memperkuat kohesi sosial di tingkat desa.
Mbah Ngadiman, seorang peternak setempat, menyatakan bahwa ritual ini adalah bentuk penghormatan kepada makhluk hidup yang telah berjasa.
“Dulu Sapi-sapi ini sudah membantu membajak sawah dan memberi hasil untuk menyekolahkan anak. Setahun sekali mereka kami ‘muliakan’ dengan ritual ini,” ungkapnya.
Meski teknologi pertanian kini mulai menggantikan peran hewan dalam pengolahan lahan, tradisi Ngalungi Kewan tetap eksis.
Hal ini membuktikan bahwa bagi masyarakat Rembang, tradisi ini bukan lagi soal fungsionalitas alat kerja, melainkan tentang menjaga etika terhadap makhluk hidup yang berbagi ruang kehidupan dengan manusia.
Pelestarian tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Rembang berhasil menjaga jati diri sebagai bangsa yang menghargai harmoni antara manusia, pencipta, dan alam semesta.












