Foto: Pentas seni ketoprak di Desa Babatan Kecamatan Kaliori. (Lp3tv/Admin)
REMBANG, Lp3tv.com – Suara kenong dan kendang yang bertalu-talu di Desa Babatan, Kecamatan Kaliori, bukan sekadar penanda dimulainya sebuah pertunjukan. Bagi Bapak Kasmuri, tiap dentuman gamelan malam itu adalah bunyi syukur yang telah ia simpan rapi dalam batinnya selama bertahun-tahun.
Kamis malam (26/3/2026), halaman rumah Pak Kasmuri berubah menjadi lautan manusia.
Warga lintas generasi menyemut, duduk bersila di depan panggung kayu yang megah. Mereka hadir bukan hanya untuk menonton lakon sejarah, tetapi menjadi saksi atas tunainya sebuah nazar besar dari seorang ayah.
Dalam tradisi Jawa, istilah “mentas” bukan sekadar lulus sekolah atau bekerja, melainkan keberhasilan orang tua mengantarkan seluruh buah hatinya ke pelaminan.
Bagi Kasmuri, ini adalah tugas suci. Bertahun-tahun silam, ia merapal janji: jika semua anaknya sudah berkeluarga, ia akan menghadirkan kesenian Ketoprak untuk desanya.
“Alhamdulillah, sedoyo anak kulo sampun mentas,” ujar Kasmuri dengan mata berkaca-kaca di sela keriuhan acara.
“Pentas ini adalah wujud syukur saya kepada Gusti Allah. Ini adalah hutang janji yang harus saya bayar karena tanggung jawab saya sebagai orang tua secara lahir dan batin sudah genap.”Tambahnya.
Keputusan memilih Ketoprak bukan tanpa alasan. Di tengah gempuran budaya modern, Kasmuri ingin warga desanya kembali menengok akar budaya.
Baginya, Ketoprak adalah media dakwah dan edukasi yang dibungkus dengan tawa dan drama.
Efeknya luar biasa. Sepanjang malam hingga Jumat dini hari pukul 03.00 WIB, suasana desa terasa sangat hidup. Ekonomi lokal pun ikut berdenyut; pedagang kaki lima di sekitar lokasi tampak sumringah melayani pembeli yang tak henti datang.
Bagi masyarakat setempat, aksi Pak Kasmuri dipandang sebagai teladan tentang sakralnya sebuah ucapan.
Dalam filosofi Jawa, memenuhi nazar adalah cara manusia menjaga keseimbangan batin dengan Sang Pencipta.
Saat lampu panggung akhirnya padam menjelang subuh, ada rasa lega yang terpancar dari wajah Pak Kasmuri.
Beban di pundaknya seolah luruh bersama tepuk tangan penonton yang membubarkan diri dengan senyum puas.
Malam itu di Desa Babatan, seni tradisional tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga merayakan keberhasilan seorang ayah dalam menunaikan tugas tertingginya.















