Padi Siap Panen Di kecamatan Kaliori Rembang Rubuh Diterjang Hujan Badai

Foto: Kondisi padi petani yang tubuh di Desa Gunungsari.


REMBANG, Lp3tv.com – Langit di atas Kecamatan Kaliori, Rembang, belakangan ini tak lagi bersahabat bagi para petani. Harapan untuk merayakan masa panen raya justru berubah menjadi perjuangan fisik dan mental. Hujan deras yang memacu adrenalin dan angin kencang yang menderu telah menyisakan pemandangan pilu: puluhan hektar tanaman padi siap panen kini “bersujud” rata dengan tanah.

Di Desa Mojorembun dan Dusun Ngumpleng, Desa Gunungsari, hamparan hijau kekuningan yang seharusnya berdiri tegak menyambut mentari, kini nampak rebah diterjang badai.

Bagi para petani, padi yang roboh bukan sekadar estetika sawah yang rusak, melainkan lonceng peringatan atas membengkaknya biaya operasional yang mencekik.

Damun, seorang petani dari Desa Mojorembun, berdiri di tengah sawahnya dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan kelelahan. Baginya, memanen padi yang roboh adalah kerja ganda yang menguras tenaga dan kantong.



Agar mesin pemanen otomatis (combine harvester) atau “Comby” bisa bekerja, batang-batang padi yang rebah itu harus ditegakkan kembali secara manual.

“Iya mas, hujan angin beberapa hari terakhir ini mengakibatkan padi kami roboh. Jadi harus diikat dulu satu per satu supaya bisa diangkat dan diproses mesin comby,” keluh Damun.

Lain lagi kisah Sunardi, petani asal Dusun Ngumpleng. Baginya, musim panen kali ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Saat alam menghantam dari atas dengan cuaca ekstrem, musuh tak kasat mata menyerang dari bawah: Hama Wereng.

Kombinasi maut ini memukul telak produktivitas lahannya. Sunardi mencatat penurunan hasil panen yang sangat signifikan, menyentuh angka 30%.

“Biasanya kalau cuaca normal, lahan saya bisa menghasilkan 1 ton padi. Tapi karena sekarang pada roboh dan diperparah serangan wereng, panen pertama kali ini hanya dapat 7 kuintal (700 kg),” ungkap Sunardi.

Kondisi kritis ini menyingkap tabir masalah lain: sulitnya akses alat mesin pertanian (alsintan). Saat panen raya tiba, petani di Kaliori harus “berperang” memperebutkan mesin Comby, yang seringkali harus didatangkan dari luar daerah dengan biaya tinggi.



Sunardi dan petani lainnya kini menaruh harapan besar pada Pemerintah Kabupaten Rembang, khususnya Dinas Pertanian. Mereka menuntut tiga hal utama: Agar setiap wilayah memiliki akses mesin Comby yang memadai tanpa harus berebut, Petani merasa “buta” dalam menghadapi masifnya serangan wereng dan membutuhkan arahan teknis langsung di lapangan, Penanganan dampak cuaca ekstrem yang kian sering melanda wilayah pesisir Rembang.

“Kami ini bingung solusinya (wereng). Kami sangat berharap PPL atau Dinas Pertanian lebih proaktif memberikan arahan teknis kepada kami yang di bawah ini,” pungkas Sunardi.

Kini, di bawah bayang-bayang awan mendung yang masih sering bergelayut, para petani di Kaliori hanya bisa pasrah sembari terus berupaya menyelamatkan sisa-sisa hasil keringat mereka. Mereka tidak butuh sekadar simpati, tapi aksi nyata sebelum bulir padi terakhir membusuk ditelan lumpur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *