Saat Remaja Masjid Jadi Jantung Kemanusiaan di Rembang

Foto: Komunitas Ikatan Remaja Masjid (Irmas) bagi-bagi takjil di jalan sekar sari. (Lp3tv/Admin)

REMBANG, Lp3tv.Com – Di saat gempuran tren digital seringkali membuat pemuda asyik dengan dunianya sendiri, sekelompok anak muda di Desa Sekarsari, Kecamatan Sumber, justru memilih jalan berbeda. Mereka membuktikan bahwa “nadi” gotong royong belum mati. Lewat Ikatan Remaja Masjid (IRMAS), masjid bukan lagi sekadar tempat ibadah, melainkan markas penggerak perubahan sosial.

​Di bawah komando Ali Imron, IRMAS bertransformasi menjadi lembaga kemanusiaan “akar rumput” yang disegani. Bersama sosok-sosok seperti Faridatul Nur Fitri dan Dwi Budi Utami, komunitas ini berhasil memenangkan hati warga melalui aksi nyata, mulai dari santunan duafa hingga agenda besar di bulan suci.

​Salah satu yang menjadi buah bibir adalah cara mereka mengelola sedekah. Jika biasanya bagi-bagi takjil hanya bersifat searah, IRMAS menciptakan ekosistem “Dari Warga untuk Warga”. Mereka menjemput bola, mengumpulkan donasi sukarela dari pintu ke pintu di seluruh desa.

​”Khasnya IRMAS itu ada pada kekompakannya. Warga sangat antusias mendukung karena mereka melihat sendiri hasilnya disalurkan kepada yang berhak,” ujar Sunarto, salah satu warga yang merasakan dampak positif kehadiran mereka.

​Spektrum aksi mereka tak berhenti di urusan konsumsi. Suntari, anggota aktif IRMAS, mengungkapkan bahwa keberanian mereka mengeksekusi program besar seperti khitan massal telah menarik perhatian donatur hingga lintas wilayah di Kabupaten Rembang.

​”IRMAS kegiatannya banyak, ada santunan duafa hingga sunatan massal yang didonaturi saudara-saudara dari luar wilayah,” ungkap Suntari. Hal ini membuktikan bahwa transparansi dan integritas adalah modal utama mereka dalam meraih kepercayaan publik.

​Menggerakkan roda organisasi di tengah kesibukan anggota yang bekerja bukanlah perkara mudah. Di sinilah peran krusial Ali Imron diuji. Sebagai tokoh kunci, ia menjadi mesin penggerak yang memastikan program tetap berjalan meski anggota lainnya memiliki keterbatasan waktu.

​”Berhubung saya sendiri berbenturan dengan pekerjaan, semua kegiatan IRMAS di-handle oleh Pak Ali Imron. Beliau sangat aktif di lapangan untuk mengoordinasi semuanya,” tambah Suntari.

​Kehadiran IRMAS di Desa Sekarsari seolah menjadi jawaban atas kekhawatiran lunturnya nilai sosial di generasi Z. Dengan semangat “Dari Masjid Membangun Desa”, mereka tak hanya menjadi penerus masa depan, tetapi telah menjadi aktor perubahan di masa sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *