Dagangan Bunga Mbah Minah di Rembang Laris Manis di Awal Ramadhan

Foto: Ilustrasi pedagang bunga yang laris. (Lp3tv/Admin)

REMBANG, Lp3tv.Com – Harum aroma mawar dan kenanga merebak di sepanjang jalan Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Kamis (19/2/2026). Hari pertama puasa Ramadan 1447 H tahun ini membawa fenomena unik: perpaduan antara awal bulan suci dan tradisi ziarah malam Jumat yang membuat lapak bunga tabur dibanjiri pembeli.

​Bagi para pedagang bunga seperti Mbah Minah, momen ini bukan sekadar rutinitas, melainkan “panen raya” spiritual dan ekonomi yang datang setahun sekali.

​Lapak sederhana Mbah Minah di Desa Kaligung mendadak jadi pusat perhatian. Warga dari berbagai desa tetangga hingga pengendara yang melintas sengaja menepi demi mendapatkan bungkusan bunga segar.

​Tradisi nyekar atau ziarah kubur memang menjadi ritual tak terpisahkan bagi masyarakat Jawa di Rembang saat memasuki Ramadan. Tahun ini terasa lebih istimewa karena hari pertama puasa bertepatan dengan hari Kamis yang bersambung ke malam Jumat—waktu yang dianggap sakral untuk mendoakan leluhur.

​”Dua hari ini pembeli bunga meningkat 3 kali lipat dari biasanya, Mas,” ujar Mbah Minah dengan raut wajah penuh syukur saat ditemui di sela kesibukannya meracik bunga, Kamis (19/2/2026).

​Sudah menjadi rahasia umum bahwa harga kulakan bunga dari petani biasanya ikut merangkak naik menjelang Ramadan. Namun, hal itu tak menyurutkan niat warga. Bagi mereka, meletakkan mawar, kantil, dan kenanga di pusara orang tercinta adalah bentuk penghormatan dan kasih sayang yang tak ternilai harganya.

​Mbah Minah menuturkan, gelombang pembeli mulai terasa sejak Rabu kemarin dan mencapai puncaknya pada Kamis sore ini. Stok bunga yang ia bawa pun ludes dalam waktu singkat.

​Fenomena laris manisnya dagangan Mbah Minah mencerminkan bagaimana kearifan lokal mampu menghidupkan ekonomi mikro di tingkat desa. Di tengah mobilitas warga Kecamatan Kaliori yang tinggi, tradisi menjaga makam leluhur tetap lestari.

​”Kalau hari biasa ya ada yang beli, tapi tidak seramai ini. Ini kan pas barengan awal puasa dan besok sudah Jumat, jadi orang-orang sekalian ziarah sebelum fokus ibadah puasa,” tambah Mbah Minah sembari tersenyum.

​Momentum ini diharapkan menjadi angin segar bagi para pedagang kecil di Rembang sepanjang bulan suci, membuktikan bahwa doa dan tradisi selalu membawa berkah bagi mereka yang gigih berupaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *