Foto: Hamparan tanaman jagung yang ada di Desa Jukung Kecamatan Bulu.(Lp3tv.com/Admin)
REMBANG, Lp3tv. Com – Sektor pertanian di Desa Jukung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang tengah mengalami pergeseran besar. Puluhan petani yang sebelumnya mengandalkan tanaman singkong sebagai komoditas utama, kini mulai beralih menanam jagung. Langkah ini diambil sebagai strategi bertahan hidup di tengah anjloknya harga singkong yang merosot tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Peralihan ini bukan tanpa alasan. Para petani mengaku mengalami kerugian besar akibat ketidakseimbangan antara biaya operasional dengan harga jual di pasaran.
Kondisi ekonomi petani singkong di Desa Jukung saat ini sedang berada di titik nadir. Berdasarkan keterangan para petani setempat, harga singkong yang sebelumnya sempat menyentuh angka Rp3.100 per kilogram, kini terjun bebas ke angka Rp1.500 per kilogram.
Penurunan harga yang mencapai lebih dari separuh harga normal ini membuat para petani tidak mampu menutupi biaya modal operasional, mulai dari pupuk, bibit, hingga upah tenaga kerja. Bukannya mendapatkan keuntungan, petani justru terancam terjerat utang jika terus memaksakan menanam singkong.

Dwi Harsono, salah satu petani progresif asal Desa Jukung, membenarkan fenomena peralihan besar-besaran ini. Menurutnya, hampir seluruh petani yang mengelola lahan di kawasan tersebut kini telah berpindah haluan ke tanaman jagung.
“Alasan kami beralih ke tanaman jagung karena saat ini harga jagung menjanjikan. Semoga kerugian kemarin dari menanam singkong dapat tertutupi dari panen jagung nantinya,” ujar Dwi saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di sawah.
Dwi menjelaskan bahwa saat ini harga jagung di pasaran sangat kompetitif, yakni berada di kisaran Rp4.500 per kilogram.
Selisih harga yang cukup jauh dibandingkan singkong inilah yang memicu semangat baru bagi para petani untuk menggarap lahan mereka kembali.
“Di sini lahan yang sekitar 17 hektar, petani semua beralih ke jagung, Mas,” tambahnya. Luasnya lahan yang dialihfungsikan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak anjloknya harga singkong terhadap stabilitas ekonomi desa.
Peralihan ke tanaman jagung ini merupakan langkah spekulatif namun realistis yang diambil petani demi menyambung hidup. Namun, kekhawatiran akan terjadinya fluktuasi harga yang serupa tetap membayangi benak mereka.
Dwi Harsono mewakili para petani di Desa Jukung berharap agar pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat menjaga stabilitas harga jagung. Mereka sangat bergantung pada hasil panen mendatang untuk menutup “lubang” kerugian yang ditinggalkan oleh komoditas singkong.
“Harapan kami hanya satu, harga jagung ini tetap stabil. Jangan sampai setelah kami semua pindah menanam jagung, harganya ikut-ikutan anjlok. Kami butuh kepastian harga agar tidak mengalami kerugian yang berulang,” pungkas Dwi.
Dengan masa tanam yang telah dimulai, Desa Jukung kini bertransformasi menjadi hamparan hijau tanaman jagung. Kini, nasib ekonomi ratusan keluarga di desa tersebut sangat bergantung pada kesuksesan panen jagung beberapa bulan ke depan.












