Tradisi Nyumpet Beras Masih Kental Di Pedesaan Rembang.

Foto: Sesaji dalam tradisi Nyumpet beras (Lp3tv.com/Admin)

REMBANG, LP3TV. Com – Di tengah arus modernisasi, masyarakat Jawa khususnya di wilayah pedesaan masih memegang teguh tradisi leluhur dalam setiap penyelenggaraan hajatan besar. Dua prosesi yang paling krusial dan tak boleh terlewatkan adalah tradisi Nyumpet Beras dan penyajian Sesaji.

Kedua tradisi ini diyakini sebagai bentuk “pagar gaib” dan permohonan restu agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar tanpa hambatan teknis maupun gangguan spiritual.

Filosofi Nyumpet Beras

Secara harfiah, nyumpet berarti menyumbat atau menutup. Dalam praktiknya, tradisi Nyumpet Beras dilakukan oleh tuan rumah atau tetua adat dengan cara menaruh benda-benda simbolis ke dalam tempat penyimpanan beras utama (pedaringan).

Benda yang biasanya dimasukkan antara lain uang logam, telur ayam kampung, sisir, cermin kecil, hingga bumbu dapur lengkap yang dibungkus kain.

Filosofi di balik ritual ini adalah agar ketersediaan pangan (beras) selama acara hajatan tetap melimpah dan tidak kekurangan meskipun tamu yang datang sangat banyak.

“Ini adalah bentuk kemantapan batin tuan rumah. Dengan nyumpet, kita berharap berkah agar hidangan untuk tamu selalu cukup dan hajatan tidak kasatan (kehabisan stok),” ujar Ki Wisanggeni , salah satu sesepuh desa yang ada di Rembang.

Selain nyumpet beras, keberadaan Sesaji atau sajen menjadi elemen visual yang paling menonjol. Sesaji biasanya diletakkan di titik-titik strategis seperti di bawah tratak (tenda), di dapur, di dekat sumber air, hingga di sudut-sudut rumah.

Isi dari sesaji ini sangat beragam dan penuh makna, di antaranya:

Nasi Tumpeng Kecil: Simbol hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Pisang Raja: Harapan agar penyelenggara acara memiliki martabat dan kemuliaan.
Kembang Setaman: Simbol keharmonisan dan doa yang harum.
Kopi Pahit dan Manis: Menggambarkkan bahwa kehidupan terdiri dari suka dan duka yang harus diterima dengan ikhlas.

Meskipun terlihat sebagai ritual kuno, bagi masyarakat setempat, tradisi ini tidak bertentangan dengan nilai religius.Doa-doa yang dipanjatkan saat menata sesaji tetap ditujukan kepada Allah SWT.

Tradisi ini lebih dipandang sebagai adat istiadat yang berfungsi sebagai media sedekah dan penghormatan terhadap lingkungan sekitar.

Kehadiran sesaji juga menjadi penanda bagi para pekerja di dapur dan seluruh panitia bahwa acara tersebut sakral, sehingga semua pihak diharapkan menjaga perilaku dan tutur kata selama hajatan berlangsung.

Dengan tetap lestarinya tradisi Nyumpet Beras dan Sesaji, masyarakat berharap identitas budaya tidak hilang dan nilai-nilai gotong royong serta rasa syukur tetap terjaga di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *