Gerakan ‘GEMAR’ Secara Nasional MTs Miftahul Huda Maguan Sampaikan Pesan Apa?

Foto: MTs Miftahul Huda Kaliori

REMBANG, LP3TV. Com – Sebuah pemandangan berbeda terlihat di berbagai satuan pendidikan pada akhir semester tahun ini. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Nomor 14 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 1 Desember 2025, Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) resmi meluncurkan gerakan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor).

Gerakan ini merupakan seruan nasional yang mengajak seluruh ayah di Indonesia untuk terlibat langsung dalam pendidikan anak.


Tujuannya jelas: memperkuat kolaborasi antara keluarga dan sekolah sebagai fondasi utama pembentukan karakter serta prestasi generasi muda.

Kehangatan di MTs Miftahul Huda Kaliori

Salah satu titik pelaksanaan yang mendapat sambutan hangat berada di Kabupaten Rembang, tepatnya di MTs Miftahul Huda Kaliori.

Sejak pagi, puluhan Wali murid tampak memadati area sekolah. Mereka tidak hanya datang untuk sekadar menerima lembar hasil belajar, tetapi juga terlibat diskusi mendalam dengan wali kelas mengenai perkembangan akademik, perilaku, hingga potensi minat bakat anak-anak mereka.

Kehadiran sosok ayah di sekolah diyakini memberikan dampak psikologis yang signifikan. Selain dukungan moral, keterlibatan aktif ayah terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar anak karena merasa diperhatikan secara utuh oleh kedua orang tuanya.

Meski gerakan ini digaungkan secara masif untuk mendorong peran ayah, pihak sekolah tetap mengedepankan asas kemanusiaan dan fleksibilitas.


Kepala Sekolah MTs Miftahul Huda Kaliori, Sucipto, dalam sambutannya menegaskan bahwa pihak sekolah memahami kondisi kerja setiap orang tua.

“Meski gerakan GEMAR ini digaungkan di berbagai daerah sebagai upaya penguatan peran ayah, kami di MTs Miftahul Huda tetap memperbolehkan siapa pun yang mewakili untuk mengambil rapor, baik itu ibunya, pamannya, atau saudara lainnya jika ayah benar-benar berhalangan hadir,” jelas Sucipto.

Namun, ia menekankan bahwa esensi dari gerakan ini bukan sekadar prosesi serah terima kertas, melainkan pembagian tanggung jawab pengawasan.

Kolaborasi Sekolah dan Rumah

Sucipto mengingatkan bahwa sistem pengawasan anak didik tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Menurutnya, lingkungan rumah adalah laboratorium pertama pembentukan karakter.

“Sistem pengawasan anak didik di MTs Miftahul Huda bukan hanya tanggung jawab sekolah, namun di rumah juga bagian dari peran vital orang tua,” pinta Sucipto di hadapan para wali murid.

Senada dengan kepala sekolah MTs Miftahul Huda, Wali murid Mei Indah Putri Pertiwi kelas 9c, Supriyanto asal desa Maguan sangat mendukung progam-progam sekolah.

“Kami selaku orang tua sangat mendukung semua kegiatan yang ada MTs Miftahul Huda, apapun yang terbaik untuk anak kami selalu kita dukung,”Tegas Priyanto.

Sucipto juga menitipkan beberapa pesan kunci bagi orang tua agar mutu pendidikan terus meningkat, di antaranya:

Pendampingan Belajar: Orang tua diharapkan hadir saat anak mengulang pelajaran di rumah.
Motivasi Positif: Memberikan apresiasi atas usaha anak, bukan sekadar melihat nilai angka.
Sinergi dengan Guru: Menjalin komunikasi intensif dengan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman bagi anak.

Inisiasi BKKBN melalui gerakan GEMAR ini diharapkan dapat mendobrak stigma bahwa urusan pendidikan anak adalah ranah domestik ibu semata. Dengan keterlibatan ayah, diharapkan tercipta keseimbangan pengasuhan (co-parenting) yang lebih sehat di Indonesia.

Pemerintah berharap momentum pengambilan rapor ini menjadi langkah awal bagi para ayah untuk lebih “melek” terhadap proses tumbuh kembang anak di sekolah, guna mencetak generasi emas yang tangguh secara mental dan unggul secara intelektual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *